Hikmah Jejaring Sosial

06 April 2015, 01.38 AM, GMT +8 .

Berawal dari kebutuhan mencari informasi di twitter, bermuara pada hikmah yang menginspirasi, *sampai2 gatel nulis di dinihari ini :D*.

Awalnya mau nanya di akun CS salahsatu bank, tapi karena akun twitter yg biasa digunakan untuk tanya2 ke CS minta reset password, jadilah buat akun twitter baru dengan alamat email lamaaa, dan disitulah cerita bermulai..

Setelah akun baru twitter “ala2″ terbuat, ada suggestion Who to Follow, dan keluarlah 1 nama yang tak mgkn terlupa, yaitu teman (tanpa pernah bertemu), dan jadi teman pun karena ada cerita dgn teman kita *nah loh, bingung tak*.

Jadilah aku kepo akan kabar temanku itu sekarang, ternyata dia sudah tinggal di Singapore, dan perjuangannya mendapatkan baby berhasil, *semoga aku pun segera berhasil*.. daann terus kepo scroll timeline… tnyata dia memposting <a href=”https://www.youtube.com/channel/UCcH4Rdxw8lkVL9vZ60K_esA”>video youtube game buatan suamiku</a>  …. world is so flat? tnyata peribahasa “dunia selebar daun kelor” ada benarnya :D… Kita satu sama lain, saling terhubung, dengan link yg tidak disangka2..

Yaak, begitulah ternyata kehidupan sosial kita, bahkan terdapat riset yang saya dengar beberapa tahun lalu ketika saya berkantor di digital agency, yg menspesialisasikan project di bidang social network a.k.a jejaring sosial, bahkan mengirim anak2 kantor untuk mengikuti kuliah umum di UI dari seorang profesor asal Indonesia yang baru pulang ke Indonesia, setelah penelitiannya tentang jejaring sosial begitu di akui di USA, profesor itu bernama Roby Muhammad. Penelitiannya menyebutkan “<a href=”http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&amp;1061998283″>bahwa orang di dunia terhubungkan melalui rantai kenalan yang pendek</a>” …

Dan hikmahnya…. Aku yakin, informasi yang aku dapat beberapa jam yg lalu tentang temanku, tentang mimpi2ku yg berhasil diwujudkan olehnya (dapat mentadabur alam-karena berhasil mengunjungi negara2 lain-, mendapatkan “miracle” baby).. Hal itu membuat semangatku bangkit lagi, mengingatkanku akan mimpi2 yang belum terwujud, menjadi pelipur keadaanku saat ini.. Yaa, walaupun sekarang aku sudah menjadi civil servant-yg kata orang susah dicapai-. Tapi apapun tantangan &amp; ujiannya, aku harus selalu bersyukur, berusaha, dan menghidupkan (kembali) mimpi2ku…

Semoga aku dapat mengisi hidup ini, dengan bekal yang dapat membawaku ke surgaNya..
Semangaaat… Nothing’s impossible if you try and you pray…

E-Learning dan Knowledge Management System

Sebenarnya sudah sejak awal bulan Agustus ini, topik ini mau saya ulas untuk mengobati my curiosity, karena sekilas kedua sistem tersebut similar.  Jadi, di hari ini saya tuangkan hasil riset kecil2an di internet sejak awal bulan ini  (actually 15 agustus 2011-di draft date blog-,namun baru hari ini bisa meneruskannya setelah 4 bulan berlalu 😦 ) terkait E-Learning dan Knowledge Management System

Sebelum ke perbedaannya, mari kita ulas singkat dulu persamaannya.  Secara simple, persamaan E-learning & Knowledge Management System adalah keduanya berfungsi sebagai cara/ metode untuk meningkatkan pengetahuan secara berkelompok. Kedua sistem ini tidak hanya cocok untuk pelajar yang notabene memang tugasnya adalah belajar, namun juga untuk segala kalangan, terutama di perusahaan yang para karyawannya harus terus meng-update informasi dan pengetahuan terkait dengan kemajuan dan tantangan perusahaan di masa saat ini maupun mendatang.

Apa itu E- Learning :

Baiklah, tujuan kedua sistem tersebut intinya sama, yaitu belajar untuk mempertahankan dan mengupdate pengetahuan. Namun, perbedaannya, kalau saya analisa dari sisi waktu dan penggunaannya, penjelasannya sebagai berikut :

  • E-learning system
    Dilakukan di awal, misalnya untuk karyawan yang baru bergabung dengan perusahaan dimana harus memenuhi pengetahuan tertentu terkait seluk beluk bisnis perusahaan.
    Intinya karyawan yang harus “mempersenjatai diri sebelum masuk ke medan perang”.
    Bahkan untuk mahasiswa, biasanya sistem ini digunakan untuk memenuhi penguasaan materi mata perkuliahan yang dilakukan via pertemuan virtual antara dosen dan mahasiswanya
  • Knowledge management system
    Dilakukan pada masa kegiatan berjalan, artinya sistem ini digunakan untuk menunjang tugas yang biasa dihadapi di suatu perusahaan. Termasuk di dalam sistem ini adalah Collaborative learning.
    Collaborative learning adalah suatu sistem belajar dimana semua yang belajar disitu, juga memprovide informasi yang terkait permasalah dan solusi yang pernah dialaminya.
    Knowledge Management System ini dapat mengakomodasi antara kebutuhan bisnis dan kebutuhan belajar/transfer informasi yang banyak di alami oleh perusahaan yang biasanya bergerak relatif cepat dalam bisnisnya, sampai terkadang pengetahuan diantara karyawan tidak merata.
    Sistem ini pun tidak hanya bisa diterapkan di dunia industri namun di dunia akademis, terutama di era keterbukaan informasi saat ini. Dimana pelajaran/ilmu tidak hanya diberikan oleh guru namun bisa oleh siswanya.
    Kalau di knowledge management system ini intinya analoginya adalah pejuang yang terus mengisi pelurunya untuk menghadapi lawan di medan perang bersama pasukannya.

Singkatnya, Knowledge Management System berfungsi sebagai metode dan cara untuk memperkecil kesenjangan pengetahuan antara komponen suatu organisasi. Bahkan dibeberapa literatur,  Knowledge Management System dapat berfungsi sebagai metode untuk menunjang proses perubahan budaya. Dimana di era informasi yang begitu transparan dan cepat penyebarannya, perubahan budaya tidak dapat dipungkiri. Contohnya di perusahaan yang sedang berkembang dan sedang membentuk budaya perusahaan dari fase awal perusahaan berdiri sampai saat perusahaan sedang menuju mature dimana bisnis perusahaan berkembang pesat dan jumlah karyawan bertambah.

Idealnya dalam suatu perusahaan kedua sistem ini diimplementasikan. Bagi Anda yang bekerja di perusahaan besar atau yang sudah mature pasti sudah dalam tahap menggunakannya. Namun bagi saya yang sedang bekerja di perusahaan yang sedang dalam menuju mature, kedua sistem tersebut sangat terasa proses peng-‘godok’-kan dan penanaman/pembiasaan diri dalam menjalani sistem tersebut. Untuk itu, ditengah menggeliatnya bisnis “start-up” dengan potensinya yang berkembang pesat, pengusaha baru bisa mempersiapkan untuk mulai menyandingkan kedua sistem tersebut, agar proses pembinaan sumber daya manusia di dalam sistem perusahaan, dapat berjalan dengan “smooth” dengan meminimalisir kesenjangan pengetahuan yang dimiliki oleh komponen perusahaan.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Ref :
http://www.managementsite.com/296/Using-Knowledge-Management-and-Elearning-for-Strategic-Change.aspx

Mengurus (Sendiri) Perpanjangan Pajak STNK di Depok

Setiap tahun, sudah menjadi kewajiban setiap warga negara yang baik untuk menunaikan pembayaran pajak. Jenis pajak yang harus dibayar oleh warga negara perorangan antara lain yang sudah saya alami sendiri (yg notabene masih menjadi karyawan) adalah PBB (pajak bumi dan bangunan), PPh (pajak penghasilan) dan PKB (pajak kendaraan bermotor). Untuk kedua pajak yang saya sebutkan diawal, biasanya cara pembayarannya lebih mudah dibandingkan dengan jenis pajak yang saya sebut terakhir.

Pertama untuk PBB, salah satu cara pembayarannya dilakukan dengan cukup mentransfer nilai wajib pajak ke rekening tertentu bank pemerintah. Jadi kalaupun ada antrian, adalah antrian di ATM :D.
Kedua adalah PPh, cara pembayarannya sudah ter-otomatisasi dari perhitungan penghasilan di kantor dan effort yang saya lakukan hanya mengisi formulir pajak yang di-update datanya setiap tahun.
Nah, yang terakhir, yaitu PKB memang perlu tambahan effort dalam pengurusan setiap tahunnya, mengapa begitu? mari simak sedikit cerita dari pengalaman saya selama ini.

Saya berdomisili di Depok, daerah Kelapa Dua Brimob tepatnya. Selama ini saya mengurus perpanjangan pajak STNK sendiri sejak tahun 2010-beda 1 tahun umurnya dengan motor Beat Biru saya :D-. Tahun 2010 s.d. 2011 saya mengurusnya di kantor SAMSAT Depok yang terletak di Jl.Merdeka Raya No.2 Depok II Tengah Depok Tlp 77824935 (sumber).

Pertama kali mengurus sendiri, Februari 2010, sempat terbayang keribetan birokrasi, tapi karena rasa ingin tau yang kuat dan keengganan membayar calo :D, saya tekadkan mengurus sendiri. Datanglah saya ke SAMSAT Depok, dan ternyata cukup mudah, karena terdapat papan penunjuk yang cukup jelas, dimana tempat menyerahkan berkas, membayar, dan mengambil berkas untuk perpanjangan STNK. Karena di SAMSAT Depok, adalah pusat segala pengurusan surat-surat kendaraan bermotor, maka loket yang tersedia cukup banyak, mulai dari urusan mutasi, perpanjangan, sampai baliknama. Adapun tempat cek fisik kendaraan berada tidak jauh dari gedung.

Di tahun kedua, awal 2011, saya masih mengurus di SAMSAT Depok. Namun ada perubahan yang cukup bagus, dimana sudah menggunakan nomor antrian seperti di bank. Nomor antrian pun diberikan pada saat masuk pintu, dan nomor tersebut menjadi penanda berkas yang di-submit. Dengan adanya nomor tersebut, sebagai pengantri, saya dapat memperhitungkan kapan berkas saya akan selesai di proses dan merasa tenang, tidak menunggu dengan khawatir berkas akan disalip oleh orang lain :D. Lalu terdapat cooler yang menyediakan air mineral gelas gratis bagi para pengantri.

Di tahun ini, 2012, saya googling apakah di Depok sudah menerapkan sistem seperti di Jakarta yang terdapat SAMSAT dengan mobil keliling, dimana bisa mengurus perpanjangan SIM dan pajak STNK di tempat-tempat mobil tersebut singgah. Sebenarnya sudah sejak tahun 2010 saya sudah googling, namun dari informasi yang saya dapat, SAMSAT keliling di depok belum konsisten, artinya kadang beroperasi. Jadi untuk meng-efisiensikan waktu dan meminimalisir resiko di dua tahun kemarin saya langsung ke SAMSAT Depok.

Akhirnya di tahun 2012 ini, setelah mantap dengan informasi yang di dapat lewat internet, saya menuju mobil keliling, yang beroperasi Sabtu kemarin di Margo City. Menembus hujan yang turun pagi itu saya masuk parkiran Margo City dan bertanya kepada petugas penjaga area parkir, dimanakah mobil samsat keliling tsb, karena kalau dari pintu masuk tidak terlihat. Petugas tersebut menjawab dengan menunjuk lokasinya, yaitu di sebelah utara, depan pintu Bank BCA. Bergegaslah saya kesana dengan masih menggunakan jas hujan dan helm sebagai pengganti payung, karena hujan masih mengguyur dan area outdoor.

Namun sesampainya disana dan bertanya kepada petugas, ternyata mobil keliling itu hanya melayani perpanjangan SIM. Ini jelas berbeda dengan mobil keliling yang beroperasi di Jakarta dimana kebanyakan melayani perpanjangan pajak STNK juga. Lalu petugas tersebut memberi informasi bahwa pelayanan STNK ada di Detos (Depok Town Square) di seberang Margo City. Memang dari informasi di internet saya juga menemukan info bahwa pelayanan samsat ada di Detos mulai dari jam 8, tapi logika saya menolak, karena saya berpikir, jam 8 mall tersebut biasanya belum buka, dan hari Sabtu itu waktu pengurusan pasti sempit, karena hanya buka setengah hari.

Akhirnya saya kembali ke parkiran dan bergegas menuju Detos. Sesampainya di Detos, sudah banyak orang yang mengerumuni gerai samsat tersebut. Kebanyakan dari mereka berdiri sehingga hampir menutupi kedua pintu dari outlet yang merupakan ruangan tertutup dengan dinding kaca. Karena diawal saya belum jelas, mana pintu masuk dan pintu keluar, maka saya pun mengintip dibalik kaca, dimana tempat penyerahan berkas. Ternyata dekat dengan 1 pintu dan saya simpulkan itu pintu masuknya. Lalu saya serahkan berkas saya yang terdiri dari 2 amplop karena saya memperpanjang untuk mobil dan motor dengan KTP yang sama.

Sambil menunggu saya dipanggil kembali untuk memperlihatkan KTP asli, saya menunggu diluar dimana terdapat bangku dan lowong, karena saya pikir panggilan pasti akan terdengar dari luar, seperti yang pernah saya alami di kantor SAMSAT depok yang memiliki pengeras suara dan terdengar sampai keluar gedung. Beberapa lama menunggu, saya tidak mendengar panggilan ke siapapun, namun pengantri keluar dari pintu ke-2, saya berasumsi berkas mereka telah selesai di proses dan mendapatkan kembali STNK yang sudah diperpanjang.

Akhirnya saya masuk kembali ruangan tersebut dan ikut berjejalan dengan pengantri lainnya, dibandingkan harus duduk dan tidak tenang berkasnya sudah diproses atau belum. Dari hal ini saya melihat beberapa perbedaan dengan kantor SAMSAT Depok, dan bisa menjadi poin perbaikan kedepannya demi kenyamanan bersama di gerai samsat Detos, yaitu :

  1. Tidak  adanya nomor antrian
  2. Tidak adanya pengeras suara dengan jangkauan sampai keluar

Kedua hal tersebut membuat ketidaknyamanan bagi pengantri maupun bagi petugas. Ruangan yang kecil dan adanya bangku pengantri di dalam, ditambah pengantri yang berdiri, menyebabkan petugas pun tidak leluasa melakukan tugasnya karena harus terdistorsi dengan perbincangan beberapa pengantri. Untuk pengantri sendiri, pasti lebih memilih duduk dan tidak berjejalan ketika menunggu, namun apa daya daripada harus menerima resiko tidak mendengar saat dipanggil, lebih baik berdiri dan berdesakan.

Saat ini gerai Samsat Detos memang sudah menjadi solusi mengurangi kepadatan pengurusan di Samsat Depok pusat. Namun fasilitas pelayanan masih harus diperbaiki demi menunjang kenyamanan dan efektifitas proses mengantri. O iya, pada saat mengantri, di loket kasir terdapat kertas yang berisi informasi bahwa, mulai tahun 2012, pengurusan Balik Nama BPKB ke Depok gratis biaya. Hal ini tentunya dapat meringankan biaya bagi warga yang memiliki kendaraan second dalam mengurus surat2 kendaraan dan untuk meningkatkan pendapatan daerah itu sendiri.

 

File .js Tidak Support di IE (Internet Explorer)

Wuiih..

Terakhir lihat postingan Oktober 201o, almost 1 year, hiks.

Tapi aku tekadkan harus mulai posting lagi, sebagai asisten dalam mengingat, maklum tahun sudah berlalu, kepala pun makin penuh, RAM belum di upgrade 😀 .

Kali ini tentang pengalaman yang 2x sudah kualami. Parahnya, pas sudah terjadi lagi, baru teringat kalau hal tersebut harus di perhatikan. Untuk itu kutuliskan disini, agar diri lebih mudah berintrospeksi dan tidak membuang2 waktu untuk mencari solusi dari problem yang sudah dihadapi sebelumnya.

Yaks, ini tentang compatibility browser. Hal yang paling mengesalkan dan menyita waktu memang. Untuk itu, tanpa panjang lebar dan tinggi lagi, ini adalah tentang file javascript (js) yang sering digunakan untuk memperindah tampilan website. Javascript digunakan untuk membuat event/ interaksi/ slideshow (futuristik) antara website dengan user. Masalahnya, karena sekarang ini sudah trend HTML5. Javascript yang digunakan pun sudah tahap advance code yang digunakannya. Sedangkan ada user yang masih menggunakan browser jadul yang belum support untuk meng-compile js (javascript) tersebut. Jadilah kejadian seperti yang kualami.

Kejadiannya website yang aku develop tidak bisa diakses di IE, dari IE 6 sampai IE 8. Gejalanya bila diakses halaman tidak ke-load code nya dan muncul pop up windows bertuliskan “Operation Aborted”.

Dulu waktu kejadian ini aku alami untuk pertama kalinya, aku menyalahkan banner flash yang dipasang di website. Karena memang, bila banner tersebut diganti menjadi menggunakan gif, error tidak muncul di IE 7, tapi di IE 6 tetap muncul. Akhirnya homepage web tersebut aku save as completed HTML, di oprek satu2. Script nya di hapus -> cek -> kalo ga ada pengaruh -> taro lagi -> script lain -> hapus -> cek -> dan seterusnya, sampai aku temukan penyebab utamanya, yaitu adalaaah.. (jeng jeng jeng) : file jquery.js  aku hilangkan dan website dapat diakses normal namun tampilan sedikit tidak rapih.

Setelah di cek ternyata jquery.js nya versi 1.4.4 dari WP (WordPress) versi 3.0 pada waktu itu. Maka aku ganti file jquery.js nya menjadi yang versi 1.3.2 dari WordPress versi sebelumnya. Dan akhirnyaa masalah selesai, website dapat diakses di IE dengan normal kembali.

Kesimpulan :

Bila menggunakan WordPress diatas versi 3.0, harap segera dicatat, bahwa user yang masih menggunakan browser IE dibawah versi 9, tidak akan dapat mengakses website teresbut, karena terlanjur dapat pop-up windows yang bertuliskan “Operation Aborted”.
Untuk itu, ubah file jquery.js yang terdapat di folder /wp-includes/js/jquery/ menjadi jquery dibawah versi 1.4.

Semoga catatan ini berguna buat orang lain yang membacanya pula.

Dilema Listrik Prabayar

Kisah ini saya ceritakan berharap di masa mendatang akan ada solusi penggunaan teknologi yang lebih baik dari yang saat ini para pelanggan listrik terima. Kisah ini bermula saat saya mulai menggunakan listrik prabayar. Di Indonesia, listrik prabayar belum lama diimplementasikan. Implementasi listrik prabayar dimulai untuk para pengguna listrik instalasi baru, sehingga belum banyak orang yang menggunakan.

Solusi pemakaian listrik prabayar sebenarnya merupakan terobosan yang cukup efektif untuk mengurangi kelalaian dalam pencatatan dan kontrol penggunaan listrik bagi pemakaian rumah tangga. Karena prosedur penggunaan fasilitas listrik pada listrik prabayar adalah pelanggan tidak akan mendapatkan energi listrik, bila belum membeli voucher listrik. Prosedurnya :

  1. Membeli listrik prabayar (tersedia nominal Rp 20.000, Rp 50.000, Rp 100.000, Rp 500.000 dan Rp 1.000.000) dengan membawa nomor ID meteran listrik di rumah kita.
  2. Nomor ID tersebut akan diinput ke sistem PLN, lalu token akan ter-generate
  3. Kita membayar sesuai nominal ataupun ada yang perlu tambah biaya administrasi (saya pernah membeli nominal Rp 100.000 dan membayar Rp 102.000)
  4. Kita menginput token yang didapat ke meteran listrik di rumah, kWh yang tercantum pun akan bertambah nilainya.

Sebenarnya dengan prosedur seperti itu, pelanggan pun dapat mengontrol dirinya dalam menggunakan listrik, artinya juga penggunaan energi listrik dapat lebih hemat, dengan kata lain penghematan energi di Indonesia dapat terwujud dan mengurangi efek penggunaan sumber daya tak terbarukan.

Masalah yang muncul dari listrik prabayar yang belum lama diimplementasikan ini adalah belum siapnya sistem pengisian listrik atau pembelian voucher. Sistem pembelian listrik prabayar teorinya cukup ideal, yaitu pembelian voucher dapat dibeli dimana saja selama ada perangkat yang terhubung dengan server khusus pembelian voucher listrik prabayar PLN. Ada beberapa alternatif pembelian voucher listrik prabayar dari yang saya baca disini, yaitu :

  1. Kantor PLN (sudah pasti)
  2. Kantor POS
  3. Toko-toko yang memiliki alat pembelian voucher dari PLN
  4. ATM BRI, ATM Mandiri, ATM Bukopin (seperti info yang tertera disini) –> tapi saya sudah mengalaminya, pada prakteknya, ATM2 yg dimaksud belum memiliki menu khusus untuk pembelian listrik prabayar

Pada pengalaman pertama saya membeli voucher, saya cukup terkesan, karena saya dapat membeli voucher melalui kantor pos di Kuningan Jawa Barat, padahal rumah saya (yang menggunakan listrik prabayar) ada di Depok. Artinya sistem online itu berjalan dengan baik.

Pengalaman kedua pun tidak ada masalah, karena mulai banyak bertebaran toko-toko yang melayani pengisian ulang listrik prabayar, jadi saya tidak perlu ke PLN atau kantor pos yang lokasinya lebih jauh dijangkau dari rumah. Pengalaman ketiga, mulai menjadi kesulitan, saya mencoba membeli ke toko biasa saya beli, namun katanya saat itu server mengalami error, dan itu sudah berlangsung beberapa hari. Logikanya kalau server error, maka tidak akan bisa dilakukan peng-generate-an token listrik dimana pun. Bayangkan bila meteran listrik di rumah, sudah menunjukkan angka kWh yang tinggal sedikit dan alarm dari meteran sudah mulai menyala (bunyinya bisa didengar dari jauh, malu sm tetangga :D). Namun pada saat itu, saya berusaha ke kantor PLN berharap server sudah normal, dan :

  1. Siang hari saya langsung ke PLN, tidak berhasil (ya sedikit bisa ditebak, karena server masih bermasalah), lalu di PLN saya diberikan 3 nomor call center listrik prabayar. Kata petugas PLN, bisa langsung dihubungi apabila sewaktu2, server sudah kembali normal.
  2. Sore hari saya kembali ke PLN, katanya server sudah normal dan bisa melakukan pembelian, anehnya, saya pembeli pertama yg datang, token belum ter-generate, namun pembeli yg datang setelah saya, token langsung ter-generate. Lalu saya pun menelepon nomor call center yang diberikan dan saya pun akhirnya bisa mendapat token, dengan proses pembayaran transfer rekening.

Pengalaman yang saya alami kemarin adalah level yg lebih tinggi lagi dari beberapa pengalaman saya menggunakan listrik prabayar. Beberapa alternatif saya jalani demi mendapatkan voucher listrik :

  1. Saya berusaha membeli voucher listrik di toko dekat rumah, namun katanya sedang upgrade alat
  2. Di sore hari saya ke kantor PLN, dan ditangani petugas security 24 jam, karena counter sudah tutup sejak jam 5 sore. Petugas melayani dengan sabar, namun masalah dulu, keanehan kembali terulang, token yang di generate dari inputan ID meter pelanggan, tidak kunjung didapat, padahal ada pelanggan yang datang setengah jam setelah saya, token generated ID meter dia, langsung didapat.
  3. Mulai dari jam 17.20 saat token inputan pertama belum keluar, saya menelepon 3 nomor call center prabayar, ketiganya ada nada sambung, namun tidak diangkat. Hal ini terus saya lakukan sampai kira-kira jam 18.30, nomor call center yang kedua dan ketiga, mulai tidak aktif (entah itu dimatikan atau memang baterai habis). Pun sampai jam 19.20 saat kesabaran saya mulai diambang batas, satu2nya nomor callcenter yg masih terdengar nada sambung, belum jg diangkat.
  4. Saya menunggu hampir 2 jam di pos satpam sejak pembelian pertama di sore, di masa 2 jam itu, telah dilakukan 3 kali inputan ID meter saya ke server mereka, token tak kunjung didapat. Akhirnya saya meminta solusi dan saya dipertemukan langsung dengan karyawan PLN yang sedang bertugas malam itu. Saya diterima bapak2 karyawan PLN tersebut dengan ramah, walaupun mereka sedang menyantap makan malam mereka di kantor.
  5. Ada beberapa orang dalam ruangan tersebut, semua merespon dengan bantuan (mulai dari memberikan nomor telepon kantor PLN terkait sesuai lokasi rumah saya, sampai mengecek ID pelanggan saya) untuk permasalahan yang saya alami. Solusi dari bapak pertama yang saya temui, saya bisa menghubungi PLN region dimana saya tinggal, saya pikir karena KTP saya Depok, PLN Depok lah yang harus saya hubungi, lalu dicarilah nomor telepon PLN Depok. Solusi yang ditawarkan adalah menghubungi PLN Depok dan petugas teknis yang sedang jaga untuk mengatur settingan meteran listrik agar listrik tetap menyala untuk kondisi darurat (teknisnya saya krg mengerti). Solusi ini ujung2nya tidak saya jalani (maaf bapak2 PLN 😀 ), karena saya sudah lelah untuk menunggu (lagi) petugas dari PLN yang menangani aliran listrik di daerah rumah saya.

Akhirnya dengan gambling, semalam (pasrah kalau tiba2 kWh habis) saya memutuskan akan mencoba membeli voucher di pagi harinya. Di pagi hari, saya membeli di kantor PLN Lenteng Agung, dan berhasil. Ternyata di tengah malam, saya di telepon oleh petugas PLN DurenTiga, bahwa nomor token ID meter saya akhirnya keluar, namun saya telah membatalkan pembelian karena saya baru melihat sms tersebut di pagi hari saat saya sudah membeli di PLN Lenteng Agung.

Sebenarnya untuk pelayanan sumber daya manusia, saya sebagai pelanggan cukup puas atas keramahan dan layanannya. Namun, sekiranya ada beberapa pelajaran dan pembelajaran dalam hal teknologi yang dipetik demi manfaat di masa depan, diantaranya :

  1. Andai pembelian voucher tidak perlu menggunakan input ID meter pelanggan, seperti pembelian voucher untuk nomor seluler. Jadi pelanggan tidak perlu menunggu token, hasil generate dari ID meter.
  2. Andaipun itu tidak bs dilakukan, semoga pembelian melalui ATM2 dapat segera terlaksana.
  3. Andaipun pula itu masih belum tersedia, maka ada sistem ter-sentralisasi untuk mengatur meteran listrik pelanggan dan melakukan setting layanan darurat agar listrik dapat menyala. Tanpa petugas harus ke rumah pelanggan. Karena akan ada memakan waktu, biaya transportasi untuk menjangkau lokasi pelanggan. Dengan kemajuan teknologi saat ini, bukan tidak mungkin instalasi listrik ditiap titik, diibaratkan IP Address yang dapat di remote untuk melakukan maintenance.

Semoga Indonesia maju dalam penggunaan teknologi, karena sumber daya manusia Indonesia pun tidak kalah dengan di negara maju sana.

Adobe Air, Offline serasa Online

Hari ini saya berkesempatan untuk dipertemukan dengan Adobe Air, yang akhirnya membuat saya untuk “menyentuh” lagi blog ini, ternyataaa…udah 7 bulan yg lalu ga disentuh sejak terakhir kali *curcol ga penting* :D. Mo alasan dikit ah, kenapa kok lama bgt ga nyentuh2, selain krn emg krg bs meluangkan wkt *alesaan*, tp krn setiap ada hasrat hrs berurusan dengan lupa password :D. Jadi hr ini dah diberesin smuanya, mudah2an ga ada lagi alasan buat nulis hal2 yg sebenarnya emg perlu ditulis, buat bagi2, wlpun cm dikit, moga2 bermaanfaat.

Membahas Adobe Air ini sebenarnya udah lumayan basi *malu deh aku* tapi karena memang baru berkesempatan benar2 mendalaminya sekarang, jadi ya saya baru mulai meng-oprek2.

Hal pertama yang terlintas dari Adobe Air ini, apakah secara konsep tujuannya sama dengan Cloud Computing?? Karena kata “Air”nya itu, saya berasumsi awal, kita bisa melakukan apasaja di air(udara) == cloud(awan) 😀 . Udara dan awan yang dimaksud disini tentu saja jaringan internet yang kalau di skema biasa digambarkan dengan bentuk awan. Padahal AIR sendiri adalah singkatan dari Adobe Integrated Runtime.

Adobe AIR sendiri adalah salah satu jawaban dari teknologi RIA (Rich Internet Application) yang mulai booming belakangan ini. Membahas sepintas tentang RIA (Rich Internet Application) *pdhl udah ada di draft blog ini dr dahulu kala,tp blm di publish2 jg-ya salah sndiri :D* , RIA lahir dari adanya fitrah manusia yang menyukai keindahan dan ke-interaktifan, kedinamisan. RIA mengakomodasi ide2 dari industri kreatif yang diterapkan di dunia website yang sebelumnya terbatas (krn pertimbangan bandwidth kecil, sedangkan rata2 ide dr industri kreatif menghasilkan grafis yang berat dr sisi ukuran file). Daripada berpanjang2, contoh RIA adalah iklan/ banner di website (rata2 portal berita) yang bisa berjalan sendiri mengelilingi window browser, ataupun, banner yang kalau di mouseover bisa keluar object dari banner itu, dan banner keren2 lainnya *suka amaze sendiri kalo liat banner RIA* 😀

*postingan yg sudah ditulis dari tahun lalu, tp baru di publish August 2011*
*diantara postingan yg masih draft*

Pelajaran : jangan menunda2 untuk hal yg positif, jgn terlalu idealis, perfectionist. speak out your mind.

Google Translate Advanced

Hampir semua orang pasti sudah pernah menggunakan fitur google yang begitu bermanfaat bagi yang masih terbata-bata dengan bahasa Inggris, yap, itu adalah google translate. Fitur google yang satu ini cukup bermanfaat selain karena fungsi utamanya menerjemahkan, juga menggunakan teknologi AJAX, sehingga user dapat dengan cepat menemukan arti dari kata yang diterjemahkannya.

Fungsi menerjemahkan dari google tersebut, tidak hanya sebatas google translate saja ternyata. Hari ini, ketika saya googling dengan google.co.id dengan keyword berbahasa inggris (disini belum membahas mengapa saya mencari jawaban dari keyword tersebut 😀 ) . Di bagian bawah hasil pencarian ternyata ada link dengan kata2 “Lihat hasil penelusuran yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ke Indonesia: “.

Saya langsung klik saja, ternyata muncul halaman hasil pencarian lain, yang semuanya berbahasa indonesia, saya pikir itu adalah website2 yang memang berbahasa indonesia. Lalu saya klik salah satu, dan itu website forum. Saya pun mulai membacanya, tetapi sebagai orang yang 100% asli Indonesia (hehehe), saya merasa janggal dengan bahasa Indonesia yang digunakan dalam forum tersebut, mudah dimengerti memang bahasa yang digunakannya, tapi kok janggal ya, seperti bukan bahasa sehari2.

Ternyata kecurigaan saya benar, website forum tersebut ternyata merupakan website asli luarnegeri, artinya konten website itu telah diterjemahkan oleh Google, seluruhnya, berikut dengan menu-menu navigasinya.

Hebat, terobosan baru dari Google 😉 . Mungkin teman2 yang membaca postingan ini sudah ada yg pernah menemukan sebelumnya, tapi karena rasa kagum saya, saya PeDe aja deh tuk menuliskan dan membaginya disini, hehehe…