Bagaikan Ayam Mati di Lumbung Padi

Pernah mendengar peribahasa yang sama dengan judul diatas? Ini bisa berkaitan dengan Kesempatan dan Potensi yang dimiliki oleh seseorang ataupun suatu negara. Tapi disini saya hanya akan membahas kaitannya dengan manusia, sebagai makhluk yang memiliki begitu banyak potensi.

Manusia, diciptakan dengan potensi yang sangat besar. Hasil yang akan di dapat pun bergantung dengan sejauh mana potensi itu bisa diolah, diasah, dan dimanfaatkan. Kesempatan, berguna sebagai fasilitas yang ada untuk mengolah, mengasah dan memanfaatkan potensi manusia yang begitu besar tadi. Kesempatan biasanya bergantung pada lingkungan dimana manusia tersebut hidup.

“Ayam mati di lumbung padi ” dapat diartikan, ayam yang memiliki potensi dan memiliki kesempatan untuk memanfaatkan lumbung padi untuk kelangsungan hidup si ayam (diasumsikan lumbung padinya tentu berisi banyak beras yang bisa dimakan ayam :D).

Hubungan peribahasa diatas dengan potensi dan kesempatan yang dimiliki seorang manusia adalah sejauh manakah potensi yang ada bisa dimanfaatkan, bila kesempatan yang datang tidak sebanding dengan potensi. Kalau boleh mengambil salah satu contoh, adalah tokoh Lintang dalam novel pertama dari tetralogi Laskar Pelangi. Bagi yang belum sempat membaca novel Laskar Pelangi ini, saya sedikit memberi gambaran tentang tokoh Lintang. Lintang adalah seorang murid super jenius yang tidak bisa meneruskan pendidikannya ke jenjang SMA, karena tiba2 kehilangan ayah, dan harus menjadi tulang punggung keluarga. Padahal, dengan potensinya yang sangat2 besar, dia bisa memanfaatkannya dengan menjadi ilmuwan yang cerdas.

Bagaikan ayam mati di lumbung padi, seseorang yang memiliki potensi tetapi tidak mendapat kesempatan untuk memanfaatkan potensi dirinya, dimana lama kelamaan, potensinya itu akan tumpul. Tapi manusia adalah makhluk yang dikaruniai akal pikiran, untuk mengambil alternatif lain dari setiap masalah yang timbul. Oleh karena itu, pasti ada jalan lain agar potensi yang dimiliki itu tidak tumpul. Sebagai manusia yang ingin bermanfaat untuk orang lain (tidak hanya dimanfaatkan :D), pastinya ingin terus bersumbangsih terhadap kehidupan bagi dirinya sendiri dan lingkungan.

Sehingga, peribahasa bagaikan ayam mati di lumbung padi, semestinya tidak berlaku bagi manusia yang berpikir, karena pasti ada jalan lain, dengan segala konsekuensi yang akan diterima bagi dirinya sendiri, maupun lingkungannya.

5 thoughts on “Bagaikan Ayam Mati di Lumbung Padi

  1. Contoh lain dari ayam mati di lumbung padi adalah Bahasa Jawa. Di Pulau Jawa, anak-anak muda makin sedikit yang mendalaminya. Itu aku pernah baca di majalah berbahasa Jawa (lupa namanya). Majalah itu tirasnya semakin menurun. Padahal dijual di daerah Jawa (waktu itu aku baca di rumah Pakde di Madiun).

    Gileee… capek loh baca majalah berbahasa Jawa. Nenek moyang orang jawa dan lama kuliah di Yogya ga bikin aku jago bahasa Jawa. –> salah satu contoh generasi muda tadi.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s