Life is so priceless, hidup itu berharga

Semua orang yang sedang normal pikirannya, pasti menyadari betapa berharganya hidup. Tapi mengapa ya, hati saya terketuk untuk menggali lebih dalam makna dari ungkapan diatas, apakah mungkin pikiran saya yang sedang tidak normal, hehe..sehingga saya perlu menegaskan kembali bahwa hidup itu berharga. Oh ya, sepertinya ketukan di hati saya bermula ketika saya melihat ekspresi wajah seorang nenek yang baru saja sembuh dari penyakit yang lumayan parah, dan sang nenek itu memperlihatkan ekspresi yang…..hmmm… I can’t tell no more, but suddenly I fell I must write down this story so that the meaning will be go straight in my head and my brain.

Ekspresi sang nenek tersebut terlihat ketika berkunjung ke rumah nenek lainnya, yang baru pulang dari beberapa hari menginap di rumah sakit. Well, so I think, there must be same feeling between those two old women about what just happen to them. Yes of course, mereka yang sudah mengalami kehidupan sekian lama di dunia ini, mungkin menyadari bahwa sebentar lagi, usia mereka akan mengalami kadaluarsa, sehingga di waktu yang tinggal sedikit itu, mereka ingin memanfaatkannya sebaik2nya, berharap masih ada harapan untuk bertemu dengan orang2 tercinta sebelum akhir menutup mata.

Ya itulah yang kurasakan setelah melihat ekspresi sang nenek tadi, sepertinya beliau menahan rindu sebelum dapat bertemu dengan nenek yang baru pulang dari rumah sakit. Dan ada gurat kesedihan yang kulihat disana, mgkn beliau berpikir, apa yang akan dia rasakan bila belum sempat menengok, tetapi sang Maha Pencipta telah memanggilnya.Di ekspresinya itu pun terpancar rasa syukur, karena masih diberi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan orang2 tercinta.

Itu adalah sepenggal cerita dari seorang nenek, dimana semua orang mengetahui batas usianya semakin dekat. Tetapi, bagaimana dengan seseorang yang masih dalam masa produktif, yang masih merasa batas usianya masih jauh, karena dia baru mencicipi kehidupan dunia fana ini dengan segala lika-likunya.. Mengapa mereka begitu yakin batas usianya masih jauh, padahal tidak seorang manusia pun mengetahui kapan waktunya kembali menghadap Sang Pencipta. Sehingga walaupun mereka mengetahui ungkapan bahwa hidup itu berharga, tetapi waktu yang dianugerahkan untuk mereka, mereka gunakan untuk hal-hal yang tidak berharga.

Ya, saya masih termasuk dalam usia seperti mereka. Terkadang pun masih lupa bahwa hidup itu berharga, sehingga saya lupa bahwa hal yang begitu berharga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan malah disia-siakan dengan melakukan hal yang tidak membawa manfaat apapun untuk kehidupan saat ini, maupun kehidupan setelah mati. Sehingga, saya seperti disadarkan ketika melihat ekspresi sang nenek tadi.

Ya, sebagai manusia yang pasti memiliki kekurangan, ada saat dimana pikiran+hati sehat dan saat tidak sehat . Saat dimana pikiran+hati tidak sehat lah yang membuat manusia menjadi tidak normal sehingga perlu mengingat kembali hakikat hidup.

Jadi, sebenarnya apakah hakikat hidup itu? Buat seorang anak muda seperti saya, dimana usia baru akan menginjak ke angka seperempat abad, mungkin masih dangkal dalam memaknai hakikat hidup, dibandingkan dengan orang yang lebih berumur dan telah mengalami pahit manis kehidupan😀. Tapi bagi saya hakikat hidup adalah menjadi manfaat untuk orang lain dengan tetap konsisten pada kejujuran. Inti dari hidup adalah bermanfaat bagi orang lain, karena manusia dikaruniai kehidupan pasti untuk suatu tujuan.

Menurut saya, setiap orang dikaruniai kemampuan dan potensi yang spesifik, sehingga sebenarnya tidak ada alasan untuk iri dengki dengan orang lain. Tetapi, tidak mudah untuk mengetahui potensi itu, karena hidup di jaman (yang katanya) modern ini, menjadi individu yang berbeda akan disebut sebagai orang aneh, orang yang tidak ikut trend, tidak bermasyarakat. Di lain pihak, bagaimana bila trend yang ada di jaman ini, bukanlah sesuatu yang baik, sehingga orang yang baik malah dianggap aneh, atau lebih parah lagi disebut orang kurang waras.

Itulah yang saya lihat pada generasi sekarang (mungkin termasuk saya :D), mayoritas mengikuti arus jaman yang seolah2 tidak menyadari bahwa hidup itu berharga. Saya tahu memang sulit untuk menjadi orang yang konsisten pada kebenaran dan kejujuran (saya pun masih berjuang v(^_^). Tapi setidaknya kita bisa mulai jujur pada hati nurani, untuk berlaku sesuai dengan kata hati nurani yang terpelihara dengan kebersihan.

Sebagai manusia yang hidup pada masa ini, saya merasa generasi saat ini belum benar2 memanfaatkan potensinya, potensi untuk berlaku jujur dan adil pada diri sendiri maupun orang lain. Karena setiap manusia memiliki naluri untuk menjadi orang yang baik sesuai dengan fitrahnya, sehingga saya optimis bahwa kita dapat berbuat lebih baik lagi untuk memberi harga yang sebanding dengan hidup itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s